Skip to content

✍️ "Penyesalan di Balik Waktu" #466

@Bullrich

Description

@Bullrich

title

"Penyesalan di Balik Waktu"

temperature

0.51

prompt

scene 1 (sampe dtk 27)

  • Di dalam kamar, anak duduk merenung, memegang bunga layu dan melihat foto keluarga (ayah ibu anak)dan mengenang dulu masa kecilnya yg bahagia tp terkadang ada hal yg membuatnya luka karena mereka miskin.
    scene 2 flashback kemasa kecil (dtk 28 - 48)
  • dia bermain sama temen”nya, tapi dia yg paling sederhana, bajunya lusuh, gapunya hp cuma bisa liatin temennya main hp. (aga di bully)
    *scene 3 (dtk 49-
  • Lari menangis dan marah minta ke ortu dibelikan HP. Ortu tidak setuju karena tidak punya uang.
  • Ortu kumpulkan uang untuk beli HP anaknya. Berjuang bekerja tak mengenal lelah.
  • Sudah dibelikan HP disuruh belajar tidak mau, akhirnya HP nya diambil lalu menangis.
  • Orang tua mengintip anaknya ketika selesai menangis dia tertidur dan memberikan selimut.
    scene 3 di reffnya
  1. Sudah besar, di rumah cuma rebahan tidak mau berupaya cari kerja. Sedangkan ortu susah payah bekerja membanting tulang jualan kehujanan.

  2. Suatu ketika mau makan lauk tidak enak, marah, konflik, bertengkar dan pergi dari rumah untuk mencari kerja.

  3. Awal kerja jadi OB dimarahin. Dunia keras

  4. Sudah lama jadi bos sukses. Dan mengingat masa lalu. Dan ingin pulang.

  5. Membeli bunga di cfd, pulang untuk bertemu ortu. Tp ternyata sudah meninggal.

  6. Pergi ke kuburan dan sangat menyesal dg membawa bunga baru

image

https://oaidalleapiprodscus.blob.core.windows.net/private/org-1n4NLnRar8NqtgoI77MBhE38/user-duMO5vXf9aS0wFrGBi6IIqtw/img-lf05KwAN5oPrZ1PhWBOPPrrp.png?st=2025-01-24T03%3A03%3A33Z&se=2025-01-24T05%3A03%3A33Z&sp=r&sv=2024-08-04&sr=b&rscd=inline&rsct=image/png&skoid=d505667d-d6c1-4a0a-bac7-5c84a87759f8&sktid=a48cca56-e6da-484e-a814-9c849652bcb3&skt=2025-01-24T00%3A44%3A31Z&ske=2025-01-25T00%3A44%3A31Z&sks=b&skv=2024-08-04&sig=Q8OyIyEp38fkhwoINp/ofsBPVw6drHx/XMSuUOnKmAc%3D

content

Scene 1 (Detik 0-27)

Di dalam kamar yang remang-remang, seorang anak muda duduk termenung di tepi tempat tidurnya. Di tangannya, ia memegang setangkai bunga layu yang tampak seperti simbol dari kenangan masa lalu yang mulai memudar. Di sampingnya, sebuah foto keluarga yang sudah agak menguning menampilkan senyuman bahagia dari ayah, ibu, dan dirinya sendiri saat masih kecil. Pandangannya terpaku pada foto itu, mengembalikan ingatannya ke masa kecil yang penuh tawa namun juga luka karena kemiskinan yang melingkupi keluarganya.

Scene 2 Flashback ke Masa Kecil (Detik 28-48)

Kenangan masa kecil itu menyeruak. Ia melihat dirinya bermain di lapangan bersama teman-temannya. Bajunya tampak lusuh dan sederhana dibandingkan dengan teman-temannya yang berpakaian lebih baik. Ketika teman-temannya asyik bermain dengan ponsel, ia hanya bisa menonton dari kejauhan, merasa terasing dan terkadang menjadi bahan ejekan. Meski begitu, senyumnya tetap ada, meski sedikit pudar saat melihat perbedaan yang mencolok antara dirinya dan teman-temannya.

Scene 3 (Detik 49-)

Kesedihan di wajahnya berubah menjadi kemarahan. Ia berlari pulang dengan air mata yang mengalir deras, memohon kepada orang tuanya untuk dibelikan ponsel. Namun, orang tuanya menolak dengan lembut, menjelaskan bahwa mereka tidak punya cukup uang. Meski begitu, orang tuanya bertekad untuk mengumpulkan uang demi membahagiakan anak mereka. Mereka bekerja keras, tak mengenal lelah, demi bisa membelikan ponsel untuknya.

Akhirnya, ponsel itu berhasil dibeli. Namun, ketika disuruh belajar, anak itu malah menolak dan lebih memilih bermain dengan ponselnya. Orang tuanya terpaksa mengambil kembali ponsel itu, membuatnya menangis tersedu-sedu. Malamnya, orang tua itu mengintip dari balik pintu kamar, melihat anak mereka yang tertidur dengan mata masih sembab. Mereka mendekat, menyelimuti tubuh anak itu dengan hati-hati, seolah mencoba menenangkan perasaan bersalah mereka.

Scene 3 di Reffnya

Waktu berlalu, anak itu kini sudah dewasa. Namun, di rumah, ia hanya menghabiskan waktu dengan berbaring tanpa berusaha mencari pekerjaan. Sementara itu, orang tuanya terus bekerja keras, tak peduli hujan atau terik, menjual dagangan mereka demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari, saat makan, ia merasa lauk yang disajikan tidak enak. Kemarahannya memuncak, memicu konflik dan pertengkaran dengan orang tuanya. Dengan hati yang penuh amarah, ia memutuskan pergi dari rumah untuk mencari pekerjaan.

Awal bekerja sebagai office boy, ia merasakan kerasnya dunia. Dimarahi oleh atasan dan merasa tertekan. Namun, seiring waktu, ia belajar dan bekerja lebih keras. Hingga akhirnya, ia berhasil menjadi seorang bos yang sukses. Di tengah kesuksesannya, kenangan masa lalu kembali menghampiri, membuatnya rindu untuk pulang.

Scene 9

Di sebuah car free day, ia membeli seikat bunga segar. Dengan hati yang penuh haru, ia pulang untuk bertemu orang tuanya, ingin menunjukkan bahwa ia telah berhasil. Namun, setibanya di rumah, ia mendapati bahwa orang tuanya telah tiada. Kehampaan menyelimuti hatinya.

Scene 10

Dengan langkah berat, ia pergi ke kuburan, membawa bunga baru di tangannya. Air matanya mengalir deras, penuh penyesalan atas waktu yang terbuang. Di hadapan makam orang tuanya, ia berlutut, menyesali semua kesalahan dan kebodohannya di masa lalu. Bunga yang dibawanya diletakkan dengan hati-hati di atas pusara, seolah menjadi simbol dari rasa cinta dan penyesalan yang mendalam.

Metadata

Metadata

Assignees

No one assigned

    Labels

    storyUsed to automate the creation of a story

    Type

    No type

    Projects

    No projects

    Milestone

    No milestone

    Relationships

    None yet

    Development

    No branches or pull requests

    Issue actions